Office Procedure dalam bedah minimal invasif

Dr. med. Ferdhy Suryadi Suwandinata, SpOG

Rumah Sakit Khusus Bedah Cinta Kasih Tzu Chi

Abstrak

Office procedures memberikan banyak keuntungan bagi dokter, pasien, tim operasi, tata ruang perawatan serta sistem kesehatan secara keseluruhan. Penggunaan teknologi yang lebih baru dan seleksi kasus yang sesuai membuat banyaknya variasi tindakan bedah yang dapat dilakukan, tanpa meningkatkan angka komplikasi dan menurunkan kenyamanan pasien. Di Amerika, peraturan penyedia layanan berbasis office ini telah dibakukan. American College of Obstetric dan Gynecology tahun 2010 mengeluarkan acuan baku pengaturan klinik bedah minimal invasif berbasis office. Bahkan American Medical Association dan American Society of Anesthesiologists menyediakan pedoman yang merekomendasi keselamatan pasien dan kenyamanan pada pelayanan klinik bedah minimal invasif berbasis office. Akan tetapi di Indonesia sendiri, peraturan pemerintah no. 8/MENKES/SK/I/2000 yang mengatur pelaksanaan laparoskopi sterilisasi harus dilakukan di kamar bedah suatu rumah sakit adalah suatu kontraindikasi adanya klinik bedah minimal invasif berbasis office di Indonesia.

Disini kami akan menguraikan beberapa prosedur minimal invasif bidang ginekologi yang dilakukan di Rumah Sakit Khusus Bedah Cinta Kasih Tzu Chi periode April 2010 – Maret 2011 dan kemungkinannya tindakan tersebut dilakukan secara rawat jalan.

Pendahuluan

Dalam 40 tahun terakhir, berbagai prosedur ginekologi telah berhasil dilaksanakan dalam klinik rawat jalan [[1]]. Antara lain tindakan aborsi, kuretase bertingkat dan eksisi abses bartolin. Histeroskopi, laparoskopi diagnostik serta sterilisasi sering dilakukan di rumah sakit, namum pasien dapat dipulangkan pada hari yang sama. Teknologi terbaru memungkinkan peningkatan jumlah dan jenis tindakan yang dapat dilakukan secara rawat jalan, termasuk non-resektoskopis ablasi endometrium [[2],[3],[4]], dan histeroskopi oklusi tuba [[5],[6]]. Keuntungan dari operasi berbasis office ini adalah penghematan biaya untuk sistem kesehatan karena hilangnya biaya perawatan di rumah sakit. Pasien mendapatkan lingkungan klinik yang akrab, penjadwalan operasi sederhana, perawatan yang lebih intensif, perawatan yang cepat dan penanganan nyeri yang lebih mudah [1]. Ahli bedah juga dapat menjadwalkan operasi lebih cepat, kontrol yang baik terhadap semua aspek intraoperatif dan postoperatif, serta efisiensi waktu pengawasan dan perawatan paska operasi. Dengan terbiasanya melakukan tindakan yang rutin, dan administrasi yang sederhana, tim klinik bedah minimal invasif berbasis office akan dapat dengan mudah mengendalikan penggunaan dan perawatan alat-alat, mengembangkan kebijaksanaan internal yang bertujuan untuk memperbaiki luaran operasi dan keselamatan pasien.

Sejarah klinik bedah minimal invasif berbasis office di bidang ginekologi

Klinik bedah minimal invasif berbasis office ini sudah dimulai saat Penfield [[7]] di tahun 1977, melaporkan 1200-kasus sterilisasi per laparoskopi yang dilakukan dengan anestesi lokal ditambah dengan sedasi intravena dan oral. Pada tahun 1989, Mehta [[8]] melaporkan hasil lebih dari 250 000 laparoskopi sterilisasi (MOW) dengan cincin tuba yang dilakukan pada tenda-tenda sterilisasi di Bombay, India.

Semua tindakan dilakukan dengan anestesi lokal. Palter dan Olive melaporkan penggunaan laparoskopi sebagai alat diagnostik untuk nyeri perut kronis [[9]]. Pada awal tahun 1990an, histeroskop kaku dengan saluran operatif dengan diameter kurang dari 5 mm diperkenalkan. Bettocchi dkk [[10]] melaporkan hasil dari 4863 prosedur yang dilakukan dalam klinik berbasis office. Dalam laporan ini ditunjukkan bahwa histeroskopi diagnostik dan histeroskopi operatif dapat dikombinasikan dengan hasil memuaskan dan tingkat kepuasan pasien yang tinggi. Namun perkembangan klinik bedah minimal invasif berbasis office berkembang sangat pesat sejak ditemukannya teknologi ablasi endometrium tanpa resektoskopi dan histeroskopi oklusi tuba. Pada tahun 1997, ablasi endometrium nonresektoskopi pertama, Gynecare ThermaChoice® Uterine Balloon, mulai diperkenalkan [[11]]. Pada tahun 2001, 2 perangkat tambahan untuk non resektoskopi ablasi endometrium, NovaSure System [[12],[13]] dan Hydro ThermAblator System dan Sistem ThermAblator Hydro [[14],[15]] beredar di Amerika. Pada tahun 2002, Sistem Kontrasepsi Essure menerima persetujuan FDA, mengantarkan era baru oklusi tuba per histeroskopi [[16],[17]].

Klinik bedah minimal invasif berbasis office tidak hanya terbatas pada tindakan bedah minor. Tahun 1999, Chou dkk melaporkan dari 27 kasus histerektomi per laparoskopi dapat dipulangkan dalam rerata 22.9 jam setelah operasi [[18]]. Hanya 3 kasus harus dilakukan perawatan karena kondisi yang lemah, migrane dan muntah. Kemudian diikuti oleh laporan kasus dari Morrison dkk tentang histerektomi pada klinik rawat jalan di Alabama [[19]]. 52 pasien dilakukan tindakan laparoskopi histerektomi supracervikal dengan rerata lama perawatan paska operasi 11 jam 37 menit. Salfelder dkk melaporkan 308 laparoskopi supracervikal histerektomi dan 30 total laparoskopi histerektomi pada klinik rawat jalan di Hamburg Altona [[20]].

Pada kesempatan ini, akan dibahas pengalaman bedah minimal invasif yang dilakukan pada suatu rumah sakit sosial di Jakarta. Kendala, pemikiran serta pandangan dibahas untuk dapat memperluas pemahaman dan meningkatkan pelayanan tindakan laparoskopi menuju pelayanan modern berbasis office.

Material dan metode

Semua data dikumpulkan berdasarkan rekam medis yang disimpan di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Cinta Kasih Tzu Chi, Jalan Kamal Raya Outer Ring Road, Kompleks Rusun BCI, Cengkareng, Jakarta Barat. Data yang diperoleh kemudian dimasukkan kedalam Excel 1997 dan analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS v. 16. Follow up dilakukan saat pasien datang kontrol. Pemeriksaan Patologi Anatomi dilakukan oleh dr. Leny SpPA.

 

Hasil

Sebanyak 83 pasien menjalani endoskopi bidang ginekologi yang dilakukan di RSKB Tzu Chi dalam periode April 2010 sampai Maret 2011. 9 tindakan histeroskopi, 37 laparoskopi sterilisasi MOW dan 1 laparoskopi fimbrioplasti dilakukan secara rawat jalan dalam periode tersebut. 7 kasus histeroskopi lainnya dilakukan bersamaan dengan laparoskopi operatif (Tabel 1). Kategori jenis tindakan dilakukan berdasarkan klasifikasi DRGs (Disease Related Groups).

Tabel 1. Jumlah tindakan per jenis tindakan
Jenis tindakan Jumlah tindakan
Diagnostik

2

Sterilisasi

37

Salpingektomi

7

Salpingooforektomi

3

Kistektomi

14

Miomektomi

2

Histerektomi

9

Office Histeroskopi

16

 

 

 

 

Sterilisasi

Sterilisasi laparoskopi dilakukan pada 37 pasien. Semua pasien mendapatkan pemasangan cincin tuba dengan menggunakan alat Ring Applicator 26077E (Karl Storz, Germany). Tindakan pembedahan dilakukan teknik satu lubang, dengan anestesi umum (4 pasien), anestesi regional (31 pasien), dan anestesi lokal (2 pasien). Data demografi selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2. Pasien dapat berjalan 2 jam setelah anestesi regional, tidak ada satupun yang harus di rawat inap. Terdapat 1 pasien gagal MOW akibat perlekatan hebat pada daerah adnexa kiri. Dan 1 komplikasi luka terbuka sehingga harus dilakukan penjahitan ulang. Keluhan tersering paska tindakan adalah mules mules di bagian perut bawah. Tidak ada komplikasi jangka panjang, dan kepuasan pasien tinggi, sehingga mereka akan merekomendasikan teman dan kenalannya untuk dilakukan tindakan yang sama.

 

Tabel 2. Sebaran kasus sterilisasi MOW

Pasien

Umur

Paritas

Waktu operasi

Anestesi

Keterangan

M

41

4

0:45

GA

S

38

3

0:30

GA

J

29

4

0:35

GA

A

33

2

0:20

GA

K

39

2

0:15

Spinal

S

46

2

0:30

Spinal

S

29

8

0:15

Spinal

R

42

6

0:30

Spinal

N

37

8

0:20

Spinal

W

30

2

0:30

Spinal

OR

39

3

0:25

Spinal

N

36

4

0:20

Spinal

H

38

7

0:15

Spinal

M

45

4

0:30

Spinal

R

46

3

0:20

Spinal

S

42

6

0:30

Spinal

SM*

40

4

0:20

Spinal

Luka terbuka

SA

33

3

0:30

Spinal

SA

44

4

0:25

Spinal

AM

36

5

0:20

Spinal

LL

38

3

0:30

Spinal

G

36

3

0:30

Spinal

Y

41

2

0:15

Lokal

IS

32

3

0:15

Spinal

ES

41

2

0:30

Spinal

EP

38

2

0:25

Spinal

LM

32

3

0:35

Spinal

R

45

3

0:20

Spinal

EM

27

2

0:20

Spinal

N

37

3

0:30

Spinal

T

43

4

0:25

Spinal

RR

31

2

0:15

Lokal

P

42

8

0:30

Spinal

S

41

3

0:15

Spinal

H

43

3

1:00

Spinal

I

38

4

0:20

Spinal

Mean

38±5,2

3,7±1,8

25,82±9,0

Office histeroskopi

Sebanyak 9 pasien dilakukan office histeroskopi tanpa menggunakan anestesi. Karena keterbatasan instrumentasi yang dimiliki, menyebabkan tidak dapat dilakukannya tindakan histeroskopi operatif, sehingga kuretase masih menjadi pilihan terapi. Indikasi, sebaran umum, dan histologi akhir dapat dilihat dari tabel 3. Satu kasus dilakukan pada pasien nyeri abdomen karena IUD Lippes Loop yang tertanam selama lebih 10 tahun di daerah cornual uterus. Pasien dengan hasil kanker endometrium dirujuk ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi bagian ginekologi onkologi untuk terapi selanjutnya.

Tabel 3. Sebaran kasus office histeroskopi
Pasien Umur Paritas Indikasi Histologi Keterangan
T.V. 46 P1 Vaginal bleeding Hormonal imbalance
T.P. 52 P3 Nyeri perut bawah Embended IUD
T.L. 58 A1 Postmenop bleeding Adenokarsinoma G2 HTSOB+LK
I.A 25 P0 Menorrmetrrorhagia Hormonal imbalance
R. 45 P1 Menorrhagia Hormonal imbalance
N.K. 41 P0 Menorrhagia Hormonal imbalance
I.I. 66 P0 Postmenop bleeding Adenokarsinoma G1 HTSOB
K.M.L 49 P2 Menorrmetrrorhagia Hiperplasia endometrium simpleks GEA
T.T. 42 P1 Menorrmetrrorhagia Hormonal imbalance
N. 36 P0 Infertilitas Endometrim fase proliferasi
M 29 P0 Infertilitas Endometrim fase proliferasi
I.W. 38 P1 Susp. Polyp Endo Polyp endometrium
T.D. 32 P1 Dysmenorrhoe Endometritis kronik
M.M. 41 P0 Irregular bleeding Hyperplasia endometrium simpleks LNG IUD
L.R. 31 P0 Dysmenorrhoe Endometrim fase proliferasi
E.R. 33 P0 Infertility Polyp endometrium
Mean 41,5

Tubal surgery

Sebanyak 15 pasien menjalani laparoskopi bedah saluran telur. Sebanyak 7 kasus adalah kasus kehamilan ektopik. Salpingektomi dilakukan pada semua kasus kehamilan ektopik. Tidak diperlukan tranfusi pada semua kasus kehamilan ektopik. Total lama perawatan adalah 1.14 ± 0.38 hari. Pada follou up selanjutnya, satu pasien, S.Y datang 1 tahun kemudian, dengan KET berulang pada sisi kontralateral.

Tabel 4. Sebaran kasus bedah saluran telur

Pasien

Umur

Paritas

Indikasi

Tindakan pembedahan

Histologi

Perawatan

S.Y.

33

G2P0A1

Akut abdomen

Salpingektomi

Kehamilan tuba

1, KET berulang

R.

23

P1

Akut abdomen

Salpingektomi

Kehamilan tuba

1

M.

38

G3P2A0

Akut abdomen

Salpingektomi

Kehamilan tuba

1

K.

31

P0

Nyeri abdomen

Salpingektomi bilateral

Hidrosalpinx bilateral

3

S.

34

G1P0A0

Nyeri abdomen

Salpingektomi kanan

Kehamilan tuba

2

L.

32

P1A1

Dysmenorrhoe

Salpingektomi bilateral

Hidrosalpinx bilateral

2

N.

36

P0

Infertilitas

Salpingektomi kanan, salpingostomi kiri

Salpingitis kronis

1

E.R.

33

P0

Infertilitas

Salpingectomy sn. Salpingostomi dx fimbrioplasty

Salpingitis tuberculosis

ODC

S.

29

P0

Nyeri abdomen

Salpingectomy dx, fimbrioplasty sn

Hidrosalphinx

1

N.R.

21

G3P0A2

Akut abdomen

LSK Salpingectomy dextra

Ectopic pregnancy

1

I.W.K

38

P1

Nyeri abdomen

Salpingectomi bilateral

Salpingitis bilateral

2

J.T.

25

P0

Nyeri abdomen

Salphingostomy sn, salpingectomy dx

Hydrosalphinx

3

W.

31

G2P1A0

Nyeri abdomen

Salpingectomy

Ectopic pregnancy

1

N.L.

24

G1P0A0

Akut abdomen

Salpingectomy

Ectopic pregnancy

1, Blighted ovum

T.D.W.

32

P1

Nyeri abdomen

Salpingectomy sinistra

Endometriosis tuba dgn infeksi

1

Mean

1,40

 

Neoplasma ovarium jinak

Sebaran kasus dapat dilihat pada tabel 5. Keluhan tersering adalah nyeri perut, dengan histologi tersering adalah kista endometriosis.

Tabel 5. Sebaran kasus dengan neoplasma ovarium jinak

Pasien

Umur

Indikasi

Tindakan

Rawat

Histologi

K.S.

43

Nyeri perut, NOK kanan

Kistektomi

2

Cystadenoma ovarii serosum

S.

26

NOP kiri

Salpingooforektomi kiri

2

Fibroma ovarium

K.

31

NOK bilateral

Salpingektomi bilateral, kistektomi kiri, adhesiolisis

3

Hidrosalpinx bilateral

U.K.

44

Nyeri abdomen ec NOK

Kistektomi sn dan Adnexektomi dx

1

Kista endometriosis ovarium

L

32

Nyeri abdomen

Salpingektomi bilateral, kistektomi kiri, adhesiolisis

2

Kista endometriosis ovarium, AFS st. IV

M

29

NOK bilateral

Kistektomi bilateral

1

Kista endometriosis ovarium

I.W.K.

38

Nyeri abdomen, NOK bilateral

Kistektomi, bilateral salpingectomy

2

Hidrosalphinx dengan salpingitis bilateral, kista endometriosis

T.M.K.

28

NOK bilateral

Kistektomi, koagulasi endometriosis

1

Kista endometriosis bilateral

M.D.O.

22

NOK kiri

Kistektomi kiri

1

Kistadenoma ovarii serosum papilliferum

J.S.

25

Dysmenorrhoe

Kistektomi, salpingektomi kanan, adhesiolysis

3

hydrosalphinx, endometriosis

M.M.

41

Nyeri abdomen

Kistektomi kiri, koagulasi endometriosis

1

Kista endometriosis

L.R.

31

Nyeri abdomen

Kistektomi bilateral, chromopertubation, adhesiolysis

1

Kista endometriosis dengan peradangan

H.H.

34

NOK kanan susp. Dermoid

Kistektomi, chromopertubation

2

Kista dermoid, leimyoma uteri

D.S.

31

NOK kanan

Kistektomi

1

Kista paraovarial dgn epitel kuboid

T.D.

32

Nyeri abdomen ec NOK kiri

Adhesiolysis, kistektomi bilateral

1

Kista endometriosis terinfeksi

H.I.

35

NOK kanan

Adhesiolysis, kistektomi bilateral

1

Kista endometriosis

Me/Md

32,36

1,43

Kista endometriosis

Histerektomi

9 kasus histerektomi berhasil dilakukan tanpa adanya konversi menjadi laparotomi. Distribusi kasus dapat dilihat pada tabel 6. 8 kasus dilakukan total laparoskopi histerektomi dan 1 kasus dilakukan histerektomi supracervikal per laparoskopi. Kasus adenokarsinoma endometrium stadium IA G1 dilakukan bersama dengan dokter ginekologi onkologi. Dipilih tindakan per laparoskopi karena pasien memiliki adipositas (BMI 32) dan diabetes mellitus.

Tabel 6. Sebaran kasus laparoskopi histerektomi

Pasien

Umur

Riwayat Operasi

Indikasi

Waktu operasi

Perdarahan

Lama rawat

Histologi

A.

42

CIN III

150 menit

50 mL

1

CIN III dan adenomiosis (6x5x5)

H.M.

45

Hypermenorrhoe

120 menit

50 mL

1

Hiperplasia endometrium simplex (9x6x5)

T.M.

56

Hypermenorrhoe

315 menit

200 mL

3

Adenokarsinom G-I Stadium IA

L

31

Hypermenorrhoe

240 menit

350 mL

3

Leiomyomata (8x6x5)

H

36

Adenomiosis

120 menit

200 mL

1

Leiomyomata (5x5x4)

A

47

Hypermenorrhoe

150 menit

100 mL

2

Adenomiosis (11x7x6)

H

41

Dermoid

Dysmenorrhoe

180 menit

200 mL

2

Leiomyomata (8x6x4)

L.R.

48

Sectio

Hypermenorrhoe

155 menit

200 mL

4

Leiomyomata

T.L.

47

Hypermenorrhoe

255 menit

200 mL

4

Leiomyomata 800 gr

Mean

43,89

187,22

172,22

2,33

Pembahasan

Sterilisasi per laparoskopi sudah menjadi standard pelayanan kasus rawat jalan. Metode ini sangat ideal untuk setting rawat jalan, karena dapat dilakukan tanpa menggunakan anestesi. Dengan metode LOTAL (Laparoskopi Oklusi Tuba dengan Anestesi Lokal), analgetik seperti ketoprofen atau tramadol supp sebaiknya diberikan sebelum dilakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan pasien. Saat ini sedang dikembangkan kuestioner untuk menilai kenyamanan dan kepuasan pasien dari metode LOTAL dibandingkan dengan anestesi regional.

Histeroskopi merupakan standard pemeriksaan pada perdarahan irreguler dan pemeriksaan infertilitas dalam mencari patologi uteri [[21]]. Saline infusion Sonography (SiS) juga merupakan pemeriksaan yang lebih akurat dari sonografi transvaginal. Sehingga dapat menjadi salah satu metode diagnostik sebelum beralih ke office histeroskopi. Karena keterbatasan instrumentasi, histeroskopi peratif masih belum dapat dilakukan. Selain sebagai alat diagnostik, melalui histeroskopi dapat dilakukan insersi Essure®, sistem oklusi tuba per histeroskopi. Sayangnya baru mendapatkan ijin dari Departemen Kesehatan, Indonesia tanggal 01 Februari 2011 melalui distributornya di Indonesia, PT. Crysta Diagnostika, sehingga sampai sekarang belum ada tindakan insersi Essure di Indonesia.

Pada kehamilan ektopik, tindakan salpingektomi dipilih karena compliance pasien sangat rendah, sehingga memperkecil resiko terjadinya kehamilan ektopik berulang ipsilateral.

Pasien infertilitas karena faktor tuba memilih untuk tidak melanjutkan pengobatan infertilitas ke arah IVF karena alasan biaya. Sehingga pada kasus hidrosalphinx bilateral, pasien menolak untuk dilakukan salpingektomi bilateral. Meskipun demikian menurut Schippert dkk, rekonstruksi tuba pada kasus infertilitas masih mendapat tempat tersendiri dengan keberhasilan kehamilan aterm 3-65%. [[22]].

Pada tindakan laparoskopi operatif, rerata lama perawatan 1,7 hari. Lama perawatan ini masih lebih cepat dari lama perawatan pasien paska tindakan laparotomi yang umumnya adalah 2-3 hari [hasil pengamatan]. Akan tetapi untuk merubah trend dari perawatan rumah sakit menjadi rawat jalan paska tindakan laparoskopi, seorang dokter ahli ginekologi harus dapat mempertanggungjawabkan secara etika keselamatan dan kenyamanan pasien, serta pengaturan sistem administrasi dan rujukan. Kendala yang dihadapi antara lain adalah ketakutan pasien akan terjadi hal hal yang tidak diduga jika mereka pulang pada hari yang sama. Selain itu pembiayaan berbasis asuransi, masih ditujukan pada kasus tindakan rawat inap bahkan beberapa asuransi memberikan syarat minimal 3 hari perawatan sebagai syarat pembiayaan suatu operasi.

Sejalan dengan semakin meningkatnya popularitas klinik bedah berbasis office, di tahun 2010 yang lalu, American College of Obstetric and Gynecology mengeluarkan rekomendasi pedoman nasional untuk klinik bedah berbasis office [[23]]. Dalam rekomendasinya tersebut hal sederhana yang dapat diimplementasikan dari pelayanan berbasis rumah sakit, adalah kepemimpinan, kompetensi dan penilaian, kerja sama tim dan komunikasi, daftar tilik, dan pelatihan intensif. Rekomendasi tambahan yang dipublikasi meliputi 6 langkah program yang dapat diterapkan pada suatu klinik bedah berbasis office.

6 langkah program penerapan sistem tersebut adalah [23]:

  1. Management medis dengan tanggung jawab keselamatan pasien
  2. Melakukan pelatihan khusus untuk setiap tenaga medis yang terlibat
  3. Lakukan pelatihan berulang ulang dan lakukan uji coba. Persiapkan daftar tilik untuk setiap tindakan
  4. Lakukan survey dan sertifikasi staf kesehatan (Basic Life Support atau Advanced Cardiac Life Support)
  5. Lakukan revisi metode pembiusan dan sesuaikan dengan pedoman baku terbaru
  6. Diskusikan keselamatan pasien untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk pasien

Namun Indonesia sendiri masih tertinggal jauh dibelakang. Keluarnya peraturan pemerintah no. 8/MENKES/SK/I/2000, mengatur tentang pelaksanaan laparoskopi sterilisasi yang harus dilakukan di kamar bedah suatu rumah sakit. Beracuan bahwa untuk suatu tindakan operasi yang cepat dan sederhana, tetap diperlukan monitoring pasien yang ketat dan seksama. Hal ini hanya dapat dilakukan didalam kamar operasi suatu rumah sakit di Indonesia. Jika Indonesia dapat belajar dari negara lain yang telah berpengalaman dibidang klinik bedah minimal invasif berbasis office, mungkin kebijaksanaan pemerintah dapat disesuaikan.

Kesimpulan

Dengan perkembangan teknologi kesehatan, banyak tindakan operasi yang dapat dilakukan dengan setting klinik rawat jalan. Banyak keuntungan yang didapat pada klinik bedah minimal invasif berbasis office. Penghematan biaya kesehatan yang signifikan menyebabkan trend perubahan di negara berkembang dari pelayanan rumah sakit menjadi klinik rawat jalan. Di Indonesia, setidaknya ada 3 askpek yang harus ditangani. Pertama, belum adanya penerimaan baik dari pasien, dokter dan pemerintah akan konsep klinik bedah minimal invasif berbasis office. Kedua, perlu adanya tukar pengalaman dengan negara berkembang sebagai study banding untuk kembali menata klinik-klinik yang ada di Indonesia. Ketiga harus dilakukan penelitian dan pengawasan tentang keselamatan dan kepuasan pasien sehingga mutu pelayanan dapat selalu ditingkatkan.

 

Referensi


[1]. Wortman M. Instituting an Office-Based Surgery Program in the Gynecologist’s

Office. JMIG 2010; 17(6): 673-683.

[2]. Glasser MH. Practical tips for office hysteroscopy and secondgeneration ‘‘global’’ endometrial ablation. J Minim Invasive Gynecol. 2009;16:384–399.

[3]. Glasser MH, Heinlein PK, Hung YY. Office endometrial ablation with local anesthesia using HydroTherm Ablator system: comparison of outcomes in patients with submucous myomas with those with normal cavities in 246 cases performed over 5½ years. J Minim Invasive Gynecol. 2009;16:700–707.

[4]. Lindheim SR, Kavic S, Shulman SV, Sauer MV. Operative hysteroscopy in the office setting. J Am Assoc Gynecol Laparosc. 2000;7:65–69

[5]. Greenberg JA. Hysteroscopic sterilization: history and current methods. Rev Obstet Gynecol. 2008;1:113–121.

[6]. Levie MD, Chudnoff SG. Prospective analysis of office-based hysteroscopic sterilization. J Minim Invasive Gynecol. 2006;13:98–101.

[7]. Penfield AJ. Laparoscopic sterilization under local anesthesia: 1200 cases. Obstet Gynecol. 1977;49:725–727.

[8]. Mehta PV. A total of 250 136 laparoscopic sterilizations by a single operator. BJOG. 1989;96:1024–1034.

[9]. Palter S, Olive D. Office micro-laparoscopy under local anesthesia for chronic pelvic pain. J Am Assoc Gynecol Laparosc. 1996;3: 359–364.

[10]. Bettocchi S, Ceci O, Nappi L, et al. Operative office hysteroscopy without anesthesia: analysis of 4863 cases performed with mechanical instruments. J Am Assoc Gynecol Laparosc. 2004;11:59–61.

[11]. Olah KS, Alliston J, Jones J, et al. Thermal ablation performed in a primary care setting: the South Warwickshire experience. BJOG. 2005;112:1117–1120.

[12]. Cooper J, Gimpelson R, Laberge P, et al. A randomized, multicenter trial of safety and efficacy of the NovaSure system in the treatment of menorrhagia. J Am Assoc Gynecol Laparosc. 2002;9:418–428.

[13]. Gallinat A. An impedance-controlled system for endometrial ablation: five-year follow-up of 107 patients. J Reprod Med. 2007;52:467–472.

[14]. Corson SL. A multicenter evaluation of endometrial ablation by Hydro-Therm Ablator and rollerball for treatment of menorrhagia. J Am Assoc Gynecol Laparosc. 2001;8:359–367.

[15]. Glasser MH, Heinlein PK, Hung YY. Office endometrial ablation with local anesthesia using the HydroTherm Ablator System: a comparison of outcomes in patients with submucous myomas and those with normal cavities in 246 patients performed over 5½ years. J Minim Invasive Gynecol. 2009;16:700–707.

[16]. Connor VF. Essure: a review six years later. J Minim Invasive Gynecol. 2009;16:282–290.

[17]. Veersema S, Vleugels MP, Timmermans A, Broelmann HA. Follow-up on successful bilateral placement of Essure microinserts with ultrasound.

Fertil Steril. 2005;84:1733–1736.

[18]. Chou DC et al.: Home within 24 hours of laparoscopic hysterectomy. Aust N Z J Obstet Gynaecol 39 (1999) 234–238.

[19]. Morrison JE Jr, Jacobs VR: Outpatient laparoscopic hysterectomy in a rural ambulatory surgery center. J Am Assoc Gynecol

Laparosc 11 (2004) 359–364.

[20]. Salfelder A, et al. Histerektomie als Standardeingriff in der Tagesklinik – ein Wagnis? Erfahrungen mit ambulanten Hysterektomien. Frauenarzt 2007. 48 (10): 954-958.

[21]. Bingol B, Gunenc Z, et al. Comparison of diagnostic accuracy of saline infusion sonohysterography, transvaginal sonography and hysteroscopy. J Obstet Gynaecol. 2011; 31(1): 54-8.

[22]. Schippert CGarcia-Rocha GJ. Is there still a role for reconstructive microsurgery in tubal infertility? Curr Opin Obstet Gynecol. 2011; Mar(2): .

[23]. Erickson TB, Kirkpatrick DH, DeFrancesco MS. Executive summary of

the American College of Obstetricians and Gynecologists Presidential

Task Force on Patient Safety in the Office Setting: reinvigorating safety

in office-based gynecologic surgery. Obstet Gynecol. 2010;115:147–151.

  • Comments
10
  1. November 26, 2013 at 1:31 amKatherined - Reply

    (this.value==

    Cancel
Leave a Reply

Leave a Reply

Reply to:

Skip to toolbar