Lembar Informasi untuk Pasien dan Keluarga Preeklamsia

Apa itu preeklamsia?

Preeklamsia adalah keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah atau hipertensi yang disertai dengan peningkatan kadar protein di dalam urin. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan sebanyak dua (2) kali dengan selang waktu 5 menit di antaranya, sedangkan pemeriksaan kadar protein dapat dilakukan dengan dua (2) cara, yaitu dengan pemeriksaan dipstick atau dengan pemeriksaan air seni/urin 24 jam. Preeklamsia didiagnosis ketika peningkatan tekanan darah terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu.

Preeklamsia menyebabkan berbagai risiko kesehatan untuk baik ibu maupun bayi. Preeklamsia hanya dapat diobati dengan melahirkan bayi. Penanganan preeklamsia membutuhkan tata laksana khusus untuk kehamilan dan masa nifas, yaitu masa beberapa minggu setelah persalinan.

Apa yang menyebabkan terjadinya preeklamsia?

Sampai saat ini, penyebab preeklamsia masih belum diketahui. Terdapat beberapa faktor risiko yang menyebabkan peningkatan kemungkinan seorang ibu mengalami preeklamsia, antara lain:

  • Hamil untuk pertama kalinya atau hamil dengan pasangan baru untuk pertama kalinya
  • Pernah mengalami preeklamsia di kehamilan sebelumnya
  • Memiliki tekanan darah tinggi, sakit gula/diabetes mellitus atau penyakit ginjal sebelum kehamilan
  • Berusia lebih dari 40 tahun atau kurang dari 18 tahun saat hamil
  • Hamil dengan janin kembar (kembaran dua, tiga atau seterusnya)
  • Kelebihan berat badan (obesitas)

Apa saja risiko yang mempengaruhi terjadinya preeklamsia?

Risiko preeklamsia sangat bervariasi, tergantung tingkat keparahan preeklamsia itu sendiri. Sebagian besar kasus preeklamsia tergolong preeklamsia ringan, yang umumnya mengalami perbaikan beberapa minggu pertaam setelah persalinan dan tidak menyebabkan permasalahan permanen terhadap baik ibu maupun bayi. Di sisi lain, preeklamsia ringan sekalipun dapat berkembang menjadi permasalahan serius, karena penyakit tersebut dapat berkembang menjadi preeklamsia berat. Preeklamsia berat dapat menyebabkan komplikasi fatal bagi ibu maupun bayi.

Risiko-risiko yang dapat terjadi antara lain:

Risiko terhadap ibu

  • Terjadi kerusakan organ-organ tubuh seperti ginjal, otak dan organ-organ lainnya
  • Terjadi kejang, yang merupakan perkembangan preeklamsia menjadi eklamsia
  • Terjadi penyakit yang disebut sindrom HELLP, yang ditandai dengan gejala perdarahan dan permasalahan liver. HELLP merupakan singkatan dari hemolisis (kerusakan sel darah merah), elevated liver enzymes atau peningkatan enzim-enzim hati (penanda peradangan hati) dan low platelet atau jumlah komponen trombosit yang rendah di dalam darah (salah satu faktor penyebab gangguan perdarahan)

Risiko terhadap janin

  • Janin dapat mengalami hambatan pertumbuhan di dalam rahim. Hal ini disebabkan gangguan aliran darah ke ari-ari atau plasenta, yang merupakan organ pemberi zat-zat gizi kepada janin selama pertumbuhannya di dalam rahim
  • Plasenta dapat tertarik dari dinding rahim sebelum persalinan, yang disebut solutio/abruptio placenta
  • Jika janin membutuhkan persalinan dini karena preeklamsia, janin dapat mengalami komplikasi dari kelahiran prematur, antara lain gangguan napas dan pemberian makarna

Apa saja gejala yang dialami saat terkena preeklamsia?

Sebagian besar ibu hamil dengan preeklamsia tidak memiliki gejala atau tidak mengalami keluhan fisi apapun. Beberapa ibu hamil dapat mengalami sakit kepala, gangguan penglihatan, mual, pusing atau nyeri perut atas. Dapat juga ditemukan pembengkakan di tungkai dan/atau seluruh tubuh disertai peningkatan berat badan berlebih untuk usia kehamilan yang dilalui (lebih dari 2,2 kg dalam seminggu). Keluhan pembengkakan dan peningkatan berat badan juga dialami oleh ibu hamil tanpa preeklamsia, oleh sebab itu perlu pemeriksaan fisik lengkap oleh tenaga medis yang kompeten untuk mendiagnosis preeklamsia (bidan, dokter umum dan dokter spesialis kandungan dan kebidanan)

Bagaimana preeklamsia dapat ditangani?

Preeklamsia hanya dapat disembuhkan dengan kelahiran bayi. Pada beberapa kasus, dokter kebidanan atau bidan dapat melaksanakan persalinan dini. Keputusan untuk melahirkan dini diambil berdasarkan pertimbangan apakah risiko preeklamsia (untuk ibu dan/atau janin) lebih berat dari risiko kelahiran prematur bayi.

Sebagian besar wanita dengan preeklamsia dapat melanjutkan kehamilan mereka hingga waktunya bersalin terjadi secara alamiah. Akan tetapi, perawatan pasien preeklamsia membutuhkan tata laksana khusus untuk mencegah terjadinya perburukan gejala, menilai ada ada/tidaknya masalah baik di ibu maupun janin dan merencanakan persalinan aman. Tata laksana khusus ini mencakup:

  • Kunjungan pemeriksaan kehamilan (kunjungan antenatal) yang lebih sering. Dokter kebidanan atau bidan dapat menyarankan kunjungan antenatal antara 2 hingga 8 kali dalam sebulan. Pemeriksaan air seni atau urin akan dilakukan untuk melihat kondisi ginjal. Gejala-gejala preeklamsia, seperti sakit kepala dan nyeri perut atas, akan ditanyakan untuk melihat apakah terjadi komplikasi di otak dan hati/liver.
  • Pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan tambahan perlu dilakukan untuk menilai kesejahteraan janin. Pemeriksaan tambahan ini antara lain pemeriksaan ultrasonografi/USG, nonstress test atau profil biofisik. Untuk mengobservasi kesehatan, perlu dilakukan pemeriksaan darah dan air seni/urin juga tekanan darah dan air seni tambahan serta pengukuran tekanan darah dan berat badan rutin.
  • Tirah baring atau istirahat parsial. Dokter atau bidan dapat meminta ibu untuk membatasi aktivitas, mencegah stress dan istirahat dari aktivitas sehari-hari.
  • Obat-obatan. Pemberian obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah serta mencegah kejang dapat diberikan sesuai penilaian dokter kebidanan. Untuk mencegah terjadinya kejang eklamsia, obat yang diberikan adalah magnesium sulfat (MgSO4). Pada pasien yang direncanakan untuk melakukan persalinan dini, dapat diberikan kortikosteroid untuk membantu pematangan paru janin.
  • Perawatan inap di Rumah Sakit/RS. Dokter atau bidan dapat merujuk ibu hamil dengan preeklamsia  ke RS untuk rawat inap. Hal ini membantu pengawasan lebih ketat dari tim medis terhadap kesejahteraan ibu dan janin.

Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan saat tenaga medis menyarankan tirah baring (di rumah atau RS) ?

Dalam penanganan preeklamsia, pasien dapat disarankan tirah baring atau istirahat, baik di rumah atau di RS/rawat inap. Hal ini ditujukan untuk mencegah aktivitas berlebihan yang dapat memperberat keluhan-keluhan yang berkaitan dengan preeklamsia. Hal yang harus diperhatikan pasien adalah:

  • Ketahui aktivitas yang disarankan dan seberapa berat tingkat aktivitas yang dapat dilakukan. Pasien sebaiknya menanyakan ke tenaga medis mengenai hal-hal yang diperbolehkan untuk dilakukan, terutama olahraga dan aktivitas fisik, serta seberapa lama atau sering aktivitas tersebut boleh dilakukan.
  • Ikuti saran tenaga medis (dokter atau bidan) untuk istirahat, antara lain dengan mengurangi pengunjung yang membesuk pasien dan mencegah aktivitas yang dapat meningkatkan stress atau ketegangan pikiran.
  • Berbaring di salah satu sisi, terutama sisi kiri. Hal ini akan memperbaiki sirkulasi darah dan meningkatkan aliran darah ke janin.

Apa saja efek samping dari pemberian magnesium sulfat?

Pada pasien yang dirawat inap, pemberian magnesium sulfat untuk mencegah terjadinya kejang merupakan hal yang umum dilakukan. Pemberian magnesium sulfat dilakukan melalui jalur intravena. Hal-hal yang dapat terjadi pada pemberian magnesium sulfat antara lain:

  • · Timbul efek samping. Beberapa efek samping yang dapat timbul antara lain adalah kelemahan otot, gangguan penglihatan, rasa lelah, berkeringat dan rasa panas di wajah dan/atau seluruh tubuh (flushing) serta mual dan muntah. Bila timbul gejala-gejala di atas, pasien harus segera memberitahu tenaga medis yang merawatnya.
  • Tenaga medis akan melakukan pemeriksaan rutin. Tujuan dari pemeriksaan rutin ini adalah untuk memastikan kadar magnesium sulfat dalam tubuh cukup tinggi namun tidak terlalu berlebihan hingga timbul efek samping. Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk mengawasi komplikasi preeklamsia dan efek-efek samping dari obat-obatan lain yang diberikan. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain:
      • Pemeriksaan darah, yang dilakukan terutama untuk mengetahui fungsi ginjal dan fungsi pembekuan darah
      • Pemeriksaan refleks-refleks untuk melihat efek samping obat terhadap sistem saraf
      • Pemeriksaan tekanan darah rutin untuk melihat kondisi harian
      • Pemeriksaan ukur minum-urin, untuk melihat keseimbangan cairan antara jumlah cairan yang masuk ke dan keluar dari tubuh pasien.
      • Pemeriksaan jantung dan paru untuk melihat ada/tidaknya gangguan pernapasan dan sirkulasi, yang dapat disebabkan pengumpulan cairan di dalam paru-paru.

Pemeriksaan gejala, efek samping dan keluhan lain yang dirasakan

Tanda-tanda bahaya yang harus diawasi pasien dan membutuhkan pertolongan medis segera:

Jika timbul gejala-gejala komplikasi preeklamsia seperti:

  • Sakit kepala berat atau terus-menerus (persisten)
  • Gangguan penglihatan, seperti gangguan penglihatan sementara, penglihatan kabur atau nyeri dan silau dalam cahaya biasa (makin sensitif terhadap cahaya)
  • Pusing terus-menerus
  • Nyeri di perut atas, terutama perut kanan atas
  • Penambahan berat badan tiba-tiba (lebih dari 2,2 kg dalam seminggu)
  • Pembengkakan tiba-tiba, terutama di wajah dan lengan
  • Kesulitan bernapas

Jika sedang dilakukan pengobatan dengan magnesium sulfat dan timbul gejala-gejala efek samping seperti:

  • Nyeri dada atau rasa tertekan di dada
  • Kesulitan bernapas atau pusing
  • Nyeri dan ngilu di lokasi infus atau timbul gejala-gejala preeklamsia di atas

Jika timbul gejala-gejala lainnya seperti:

  • Berkurangnya gerakan janin (janin terasa bergerak lebih sedikit dari biasanya)
  • Perdarahan dari kemaluan, yang dapat menandakan timbulnya permasalahan di ari-ari atau plasenta
  • Ketuban pecah dini
  • Rasa mulas-mulas terus-menerus, terutama pada usia kehamilan cukup bulan (38-42 minggu)

 

  • Comments
10
  1. August 10, 2014 at 6:12 pmdiagraha scorphy nugra - Reply

    Istri sy sdh melakukan persalinan prematur dan bayi tdk terselamatkan. Smpai dg ini sy tulis sdh 2hari dr persalinan. Konds skg ini bengkak masih terjadi si muka tubuh dan kaki sdg tangan sdh menurun. Tensi masih 150/100, nafsu mkn hilang, kesulitan buang air kecil dan gangguan penglihatan (kabur). Yg sy tanyakan apakah memang spt itu tmsk pada mata dan sd berapa hari?

    Cancel
Leave a Reply

Leave a Reply

Reply to:

Skip to toolbar