Penerapan BPJS Kesehatan Perlu Proses

Ketua bidang ilmiah PB POGI Jaya dr. Andon Hestiantoro, SpOG (K) mengatakan, sejak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diberlakukan pada 1 Januari 2014, memang ditemukan sejumlah kendala diberbagai rumah sakit. Namun hal ini lebih kepada kekhawatiran masyarakat yang belum tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan secara otomatis.

“Belum dievaluasi hanya kekhawatiran saja, sekarang adaptasi sedang berjalan. Yakni perubahan dari sistem Askes dan jaminan kesehatan daerah, sehingga tidak otomatis keanggotaan itu masuk dalam keanggotaan BPJS Kesehatan,” ungkap Andon pada acara malam klinik POGI Jaya, di Jakarta, (23/02/2014).

This slideshow requires JavaScript.

Andon menerangkan, agar bisa menjadi peserta BPJS Kesehatan, masyarakat  yang telah memiliki kepesertaan Askes misalnya, menganggap tidak perlu lagi melakukan pendaftara kembali karena akan tercatat secara otomatis. Kondisi ini ternyata berbeda dengan penerapan di lapangan.

Tidak terkecuali di RS Cipto Mangunkusumo, lanjut Ando, pada awal penerapan BPJS Kesehatan sejumlah kendala terjadi. Banyak masyarakat dengan kepesertaan sebelumnya memperoleh pemberian obat untuk kebutuhan satu bulan, namun kini harus diperoleh secara bertahap. Kendala itu pula perlahan mulai diseusaikan dengan melakukan sosialisasi terus-menerus.

Penerapaan BPJS Kesehatan memang tidak memberi kewajiban pada RS swasta menjadi provider. Hingga kini belum banyak RS swasta yang mendaftarkan RS nya. Untuk diakui sebagai BPJS Kesehatan memang harus melalui berbagai persyaratan bagi RS di antaranya, harus memiliki panduan praktek klinik yang baik. Cara itu merupakan langkah tepat menjalankan efisiensi di dalam memberikan pelayanan medis.

Terkait dengan pola pasien rujukan pada aturan main BPJS Kesehatan, Ando menekankan, pasien tidak boleh langsung datang ke RS kalau memang bisa ditangani di Puskesmas. “Kalau bersalin, mengapa harus di RSCM. Melahirkan itu bisa di puskesmas ditolong dokter,” sahutnya.

Ando menekankan, dengan berlakunya undang-undang BPJS Kesehatan, tidak ada alasan untuk tidak melaksanakannya. Terkait dengan berbagai kendala, hal itu lebih kepada proses yang sedang berjalan sebagai program yang baru saja bergulir.

Selain Andon, ada dua pembicara lagi antara lain, dr Tofan Widya Utami, SpOG (K),  dan Prof. Dr. Andrijono, SpOG (K).  Kedua pembicara tersebut mengetengahkan presentasinya mengenai pencegahan kanker serviks. Malam klinik POGI Jaya tersebut dihadiri sedikitnya 350 anggota dari komisariat wilayah Jaksel, Jakbar, Jakut, Jaktim, Jakpus, Bekasi, dan Depok. (DI)

  • Comments
Leave a Reply

Leave a Reply

Reply to:

Skip to toolbar