Waspadai Gejala Endometriosis Saat Haid

Wanita pada masa haid mengalami nyeri pertama kali nampaknya perlu waspada. Gejala Endometriosis mungkin saja menjadi sebabnya. Tumpahnya darah haid pada rongga perut yang gagal dibersihkan oleh sistem kekebalan rongga perut mengakibatkan reaksi endometrium kembali dirasakan pada masa periodik haid.

Obstetrician and Gynecologist Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Kanadi Sumapraja SPOG (K) mengatakan, gejala endometriosis biasanya terjadi pada hari pertama menstruasi berupa nyeri hebat pada penderita.

“Tumpahan darah haid ini sebenarnya alami, sebanyak 70 persen wanita mengalami tumpahan darah haid masuk ke rongga perut. Namun hanya 10 persen yang mengalami gejala itu akan mengalami endriometsesis. Dari angka itu, 90 persen sebenarnya bisa dibersihkan dengan sistem kekebalan tubuh yang ada dalam rongga perut, sehingga tidak berdampak pada gejala yang timbul dikemudian hari,” papar Kanadi.

Paparan tersebut terkemuka pada Malam Klinik POGI Jaya bertema The New Way Out of Endometriosis. Acara digelar di Jakarta, (22/06/2013) dengan menghadirkan pembicara ilmiah lainnya yaitu Ketua Bidang Ilmiah POGI Jaya dr. Andon Hestiantoro, SpOG (K). Pada sesi acara organisasi, dr. Andi Darma Putra, SpOG (K) meengetahkan presentasinya mengenai kompetensi SpOG dalam praktek klinik. Acara dihadiri sekitar 200 anggota POGI Jaya.

Kanadi menuturkan, tingkat kekhawatiran pada gejala endometriosis bila terus berlanjut pada masa haid berakibat reaksi radang mengalami banyak pelengketan akibat distrorsi indung telur, berimbas pada gangguan kesuburan perempuan.
Reaksi radang lainnya menurut Kanadi yang akan mempengaruhi sel telur adalah gangguan gerakan sperma dan sel telur, sampai gangguan pada proses pembuahan.

Karena banyak wanita yang tidak menyadari gejalan endometriosis terjadi, seringkali pasien datang dengan dua jenis keluhahan antara nyeri yang sifatnya periodik pada saat menstruasi atau gangguan kesuburan.

Umumnya, wanita penderita endometriosis kerap tidak menyadari gangguan tersebut. Butuh waktu sekitar tujuh tahun dari timbulnya gejala pertama kali sampai terdiagnosa oleh dokter. Banyak kalangan medis jarang menemukan endometriosis pada usia remaja. Berbagai sebab bisa terjadi, kurang waspadanya orangtua pada saat anak pertama kali mengalami nyeri haid sehingga dianggap sebagai hal biasa.

Kanadi mengatakan, karena endometriosis dipercaya dari selaput lendir dinding rahim, maka kesintasan kemampuan daya hidupnya ditentukan oleh hormon estrogen. Endometriosis umumnya banyak ditemukan pada wanita yang sedang haid, yakni sejak usia remaja dimana wanita mulai mengalami haid sampai masa akhir reproduksi.

Ia meyakini, endometriosis tidak ditemukan pada wanita yang belum menstruasi atau wanita yang sudah menopause. Meski demikian ada yang mempercayai kemampuan lesi endometriosis itu bisa menghasilkan hormon. Ada beberapa laporan penemuan tersebut dimana ditemukan kasus endometriosis pada wanita yang sudah menopause.

Namun demikian, penemuan tersebut tidak dalam kategori kasus umum. Sebaliknya temuan banyak ditemukan pada masa reproduksi, atau saat wanita masih teratur masa menstruasinya.

Penderita endometriosis bisa disembuhkan dengan dua cara terapi. Pertama, dengan cara pembedahan, dan terapi yang kedua dengan menggunakan obat-obatan. Terapi dengan obat dilakukan dengan pemberian obat hormon dan non hormon.

Patut pula diketahui, dari cara penyembuhan tersebut, tidak ada kesembuhan total pada penderita endometriosis. Setiap orang berbeda merespon langkah pengobatan. Untuk itu upaya penyembuhannya biasanya berlangsung individual. Tidak bisa caranya disama ratakan dengan pasien lain dengan geajala sama, karena belum tentu respon pengobatan yang diberikan seorang pasien akan sama. (DI)

This slideshow requires JavaScript.

  • Comments
Leave a Reply

Leave a Reply

Reply to:

Skip to toolbar