Bulan Cegah Kanker Serviks 2015

Jumlah penderita kanker serviks menduduki peringkat teratas di antara penyakit kanker pada pria dan wanita di Indonesia, dan menyumbang angka kematian yang cukup tinggi. Morbiditas kanker serviks juga lama sehingga akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Tingginya angka kejadian kanker serviks disebabkan rendahnya cakupan skrining sehingga 70% kasus kanker serviks diketahui pada stadium lanjut. Rendahnya cakupan skrining salahsatunya disebabkan oleh masih rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dan kurangnya upaya dari pemerintah, kaum profesi medis, media untuk mendorong kaum perempuan memperhatikan kesehatan medisnya. Disamping itu pada masa lalu pemeriksaan papsmir masih merupakan primadona padahal memerlukan biaya, tehnik pemeriksaan dan rujukan yang menyulitkan Negara kepulauan seperti di Indonesia.

Pencegahan kanker serviks bisa dilakukan dengan cara pencegahan primer maupun pencegahan sekunder. Pencegahan primer adalah pencegahan berbentuk kegiatan edukasi dan vaksinasi kanker serviks. Kegiatan edukasi sebagai kegiatan pemberian informasi diutamakan diberikan kepada kelompok berisiko dan remaja. Edukasi pada remaja dilakukan melalui sekolah menengah berupa Penyuluhan Kesehatan Reproduksi yang sudah mulai dilaksanakan oleh ATKIB FKUI bekerjasama dengan BKKBN Pusat. Materi KRR saat ini ditingkatkan memberi tambahan tentang Pencegahan Kanker Serviks.

Sementara pencegahan sekunder adalah pencegahan dalam bentuk deteksi dini, baik melalui IVA, PapSmear maupun kegiatan deteksi dini lainnya. IVA saat ini dianggap sebagai cxara deteksi dini yang paling murah dan dapat dilakukan di seluruh Indonesia.

Sudah sejak 15 tahun ini diperkenalkan pemeriksaan IVA (inspeksi Visual Asam Asetat) yang kadang dipelesetkan menjadi Intip Vagina Anda. Pemeriksaan ini dilakukan langsung dengan mata sehingga semua kelainan dapat segera Nampak dan segera ditindaklanjuti. Pemeriksaan IVA dapat menjawab kebutuhan skrining kanker serviks di Indonesia . Pada saat ini masih dirasa kurangnya partisipasi dari para dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk menjadi supervisor/penyelia pada tingkat puskesmas, sehingga pemeriksaan ini seringkali tidak ada pemantauannya.

Pencatatan dan pelaporan yang selama ini dilakukan oleh FcP bersama rekan-rekannya masih menghasilkan data yang sangat sedikit. Tercatat sejak 2011-2013 sekitar 116-160 ribu wanita yang dilakukan pemeriksaan IVA. Kurang terpadunya sistem pencatatan dan pelaporan menyebabkan hasil cakupan pemeriksaan skrining kanker serviks di Propinsi DKI nampaknya masih rendah. Laporan dari rumah sakit dan pusat laboratorium tidak pernah dikumpulkan secara terpadu dan berkesinambungan. Perlu perubahan dalam sistem pencatatan dan pelaporan ini.

POGI Jaya sebagai organisasi ingin turut terlibat dalam pencegahan kanker serviks dengan memadukan segala usaha lintas sektor agar dapat memberikan hasil usaha bersama yang gemilang.

 

  • Comments
Leave a Reply

Leave a Reply

Reply to:

Skip to toolbar