Ketahui Fase Kehamilan Pada Usia 20 Minggu

Masa kehamilan pada usia 20 minggu seringkali menjadi perhitungan perkembangan kehamilan dengan harapan hidup janin yang dikandunganya. Umumnya, pada usia tersebut ukuran berat bayi rata-rata sudah mencapai 500 gram, hingga bisa dikategorikan harapan hidup ada pada fase berat tersebut.

IMG_4083Ketua Bidang Ilmiah POGI Jaya dr. Andon Hestiantoro, SpOG (K) menyampaikan pemaparan itu pada acara kuliah tamu POGI Jaya bertema Supporting Pregnancy on Phase Luteal and Prevention Miscarriage. Acara berlangsung di Jakarta, (12/09/2014), dan dihadiri sekitar 60 anggota POGI Jaya. Adapun pembicara yang hadir pada kesempatan itu, Senior Medical Womens Health Abbot Laboratories Germany, Claire Pexman-Fieth, MD, FRCSC, dengan moderator Dr. dr. Taufik Jamaan, SpOG.

Andon mengatakan, kehamilan pada usia 20 minggu terjadi peningkatan resiko pendarahan atau flek. Pendarahan merupakan ancaman bagi usia kehamilan dan harus ditangani serius oleh dokter. “Pendarahan pada kehamilan kan tidak boleh, kalau flek mesti diobati. Hanya saja bisa tidak diobati. Harus yakin bahwa memang janinnya ada. Kalau memang janinya tidak ada, untuk apa diobati,” terangnya.

Namun demikian Andon mengingatkan, seorang dokter yang menangani pasien hamil pada kondisi tersebut harus meyakini bahwa ada janin dalam kandungan. Seringkali ditemukan janin tidak berkembang pada plasenta yang tumbuh. Jika tidak ditemukan janin, langkah pengobatan tidak perlu lagi dilakukan.

IMG_4060Kasus lain dalam pada usia kehamilan 20 minggu adalah, ditemukannya janin terkandung di luar rahim atau biasa disebut hamil di luar kandungan. “Bila ini terjadi dokter dihimbau untuk tidak diobati. Malah mengancam jiwa. Kalau sudah diketahui sejak awal seharusnya operasi dari awal. Pasien bisa ditolong cepat, dan biaya juga tidak terlampau besar,” kata Andon.

Ia meyakini, penyebab pendarahan pada usia kehamilan itu tidak selalu disebabkan faktor kurangnya hormone progesterone. Ada faktor lain yang bisa menjadi penyebab, antara lain, polip, kromoseum, infeksi, atau kelainan anatomi dimana ada penyekatan pada rahim. Progesterone hanya mempengaruhi 50 persen sebuah kehamilan.

“Ini multiple faktor, banyak faktor yang terlibat penyebab ancaman keguguran. Kromosome tidak bisa diobati dengan progesterone. Demikian pula dengan faktor anatomi dan lainnya. Sehingga seringkali keberhasilannya hanya lima puluh persen,” pungkas Andon. (DI)

 

This slideshow requires JavaScript.

  • Comments
Leave a Reply

Leave a Reply

Reply to:

Skip to toolbar