Kontrasepsi Bagi Remaja, Pentingkah?

Perilaku seks bebas remaja Indonesia kian mengkhawatirkan. Rilis Sexual Behavior Survey 2011 oleh DKT Indonesia pada akhir 2011 lalu melaporkan, 70 persen remaja atau sekitar 462 dari 663 remaja berusia 15-25 tahun telah melakukan hubungan seks. Survei pada Mei 2011 di lima kota besar, yakni Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali tersebut juga menyatakan jika usia terbanyak yang melakukan hubungan seks pertama kali adalah 19 tahun. Bahkan, 11 persen remaja putri mengaku pernah hamil dan 17 persen pernah melakukan aborsi. Lantas, apakah remaja boleh menggunakan kontrasepsi?

Pertanyaan ini mengemuka dalam Sarasehan Ilmiah Pogi Jaya III bertajuk “Obgyn Case File” di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Senin (3/11/2014).

Menurut dr. Herbert Situmorang, SpOG, kini kontrasepsi bagi remaja menjadi masalah yang perlu ditangani secara serius. “Banyak remaja yang masih malu memilih kontrasepsi,” kataya dalam sesi Kesehatan Reproduksi.

Beberapa pilihan kontrasepsi remaja, lanjut dr. Herbert, adalah metode proteksi ganda, baik untuk mencegah kehamilan maupun penyakit menular seksual. “Biasanya digunakan dua pilihan, barrier dengan pil, kondom dengan pil atau kondom dengan yang lain,” jelasnya.

Adapun pilihan kontrasepsi remaja lainnya, yakni dengan metode barrier; kontrasepsi emergensi; pil kombinas oral; injeksi kombinasi; ring dan transdermal; pil progestin; injeksi progestin; implant progestin; IUD; metode alami; metode amenorea laktasional (MAL); metode withdrawal; dan metode sterilisasi pria dan wanita.

“Kondom adalah kontrasepsi yang paling banyak digunakan remaja untuk mencegah kehamilan,” sebut dr. Herbert.

Hanya untuk Pasangan

Sementara Dr. dr. Eka Rusdianto, SpOG-K mengatakan, hingga saat ini belum adanya kesimpulan pasti yang menjadi jawaban tegas soal kontrasepsi bagi remaja.

“Hingga hari ini, kita masih belum sepakat apa itu definisi kontrasepsi bagi remaja, demikian juga dari pihak Departemen Kesehatan,” terang dia.

Namun demikian menurut dr Eka, kotrasepsi bagi remaja dikhususkan pada pasangan usia remaja. Hal ini mengacu pada aturan, etika dan norma yang berlaku di Indonesia. “Jadi kontrasepsi remaja adalah kontrasepsi pada pasangan yang berusia remaja, karena di Indonesia, kontrasepsi adalah untuk pasangan yang sudah menikah,” terangnya.

Tingginya pernikahan remaja, pun akan berdampak pada kehamilan di usia muda. Ini tentu akan berakibat kurang baik, terutama bagi wanita di bawah 20 tahun. Untuk itu, dr. Eka menyarankan agar seorang wanita sebaiknya baru bisa hamil di atas 20 tahun.

“Boleh menikah di usia mudah, tapi prinsipnya, jangan hamil di usia sebelum 20 tahun, karena akan berakibat kurang baik bagi ibu maupun janin. Sehingga pilihannya adalah metode kontrasepsi yang efektif dan harus repersibel dalam mencegah kehamilan,” pungkasnya. (pio)

This slideshow requires JavaScript.

  • Comments
Leave a Reply

Leave a Reply

Reply to:

Skip to toolbar