POGI Jaya Tingkatkan Kemampuan Anggota Tangani Ligasi

Proses bersalin tanpa hambatan berarti banyak diharapkan wanita ketika melahirkan bayi dari rahimnya. Namun bisa saja ancaman terjadi, misalnya pendarahan pasca persalinan sehabis plasenta tersebut lahir. Bila hal itu terjadi, dokter dituntut mampu melakukan tindakan penghentian pendarahan dengan mengikat pembuluh darah atau disebut tindakan ligasi.

Kemampuan dokter melakukan ligasi inilah kemudian menjadi perhatian POGI Jaya memberi pelatihan pada anggotanya melalui kursus ligasi arteri hipogastrika dan arteri uterine. Kursus digelar di Kampus Institut Pertanian Bogor, (07/09/2014) dengan diikuti 40 peserta dari dua gelombang.

Ketua Bidang Ilmiah POGI Jaya dr. Andi Darma Putra,IMG_3785 SpOG (K) saat menyampaikan materi pada kursus itu mengatakan, meski para dokter secara umum sudah mengetahui metode ligasi tersebut pada masa pendidikan, namun banyak dokter belum pernah melakukannya pada pasien bersalin. Tindakan ligasi terhitung jarang dilakukan, karena kasus pendarahan saat proses persalinan jarang terjadi.

“Ligasi bisa dikatakan tindakan emergency dengan perbandingan satu sampai dua diantara limapuluh kasus. Saat seperti inilah para dokter bisa merefsreh dan melatih kepercayaan diri kembali bila ada kasus yang perlu diadakan tindakan ligasi itu,” papar Andi.

Ia mengatakan, ligasi bisa terjadi secara normal atau penyebab lain yang dialami oleh wanita melahirkan. Faktor penyebab kondisi persalinan itu diantaranya, letak ari-ari yang tidak normal pada bekas sayatan lama, atau bsai juga disebabkan anemia yang dialami pasien.

Tindakan ligasi, menurut Andi, tidak akan menimbulkan efek samping bagi pasien. Tetapi pada saat melakukan ligasi itulah diperlukan dokter yang mengerti melakukan ligasi itu. “Maka dari itu perlu meningkatkan keterampilan dokter dalam melakukan ligasi dengan cara pelatihan seperti ini,” pungkasnya.

Pada prakteknya, peserta menggunakan hewan ternak babi. Sebagaimana diutarakan Kepala Divisi Bedah dan Radiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB Dr. drh Gunanti, penggunaan babi dalam penelitian bidang biomedis sebagai pengganti hewan lain seperti kelinci, anjing, dan primata. Hewan babi ini pula digunakan sebagai model penyakit-penyakit manusia berdasarkan keunikan anatomi dan fisiologinya.

Namun demikian Gunanti mengingatkan, pemanfaatan babi sebagai hewan ujicoba harus juga memperhatikan aspek medis dan kesejahteraan hewan tersebut.

Kursus bermanfaat

IMG_3872Diakui peserta kursus ligasi arteri hipogastrika dan arteri uterine, meski kursus berlangsung singkat. Namun metode dan praktek yang disajikan bisa dengan mudah dipahami oleh peserta.

Salah seorang peserta kursus, dr. Agung Witjaksono, SpOG mengakui, teori dan informasi yang disampaikan berlangsung informatif. Ada kerjasama dua lembaga dalam mengembangakan kerjasama ilmu kedokteran.

Meski belum pernah mengalami dalam praktek persalinan, Agung tetap menjadikan kursus ini sebagai pembelajaran bila kemudian hari akan menangani kasus ligasi.

Demikian pula halnya dengan dr. Shanti Ayu Saraswati, SpOG, selama berpraktek sebagai dokter kandungan, dirinya belum pernah menangani kasus ligasi.

“Saya pertama kali melihat dan melakukannya pada kursus ini. Di sini belajar bagaimana identifikasi dan penanganan dengan mudah,” ujar Shanti.

Ia menganggap, kursus kali ini terbilang baik, sehingga ke depan POGI Jaya bisa mengadakan kursus-kursus lain dengan teknik yang berbeda. Dengan cara itu maka anggota POGI Jaya bisa mendapatkan pengetahuan dari organisasi yang menaunginya. (DI)

This slideshow requires JavaScript.

 

  • Comments
Leave a Reply

Leave a Reply

Reply to:

Skip to toolbar