Siang Klinik yang diselenggarakan pada akhir tahun 2019 ini, bertempat di wilayah komisariat Depok, di Hotel Margo dengan mitra kerja kali ini adalah dari Bayer. Acara pada siang hari itu diawalai oleh sambutan dari ketua komisariat wilayah depok yaitu dr. Bagus Tri Raharjo, SpOG. Beliau mengucapkan terima kasih atas kehadiran para sejawat dalam Round Table discussion hari itu. Belajar dari angka kematian ibu yang semakin meningkat, maka POGI komisariat wilayah depok menugaskan kepada 19 orang obgin untuk membina 19 kecamatan di depok. Diharapkan peranannya (obgin) dapat berprofesi berpraktek secara sosial, tidak harus selalu berpraktek di rumah sakit. Dengan tujuan untuk menurunkan angka kematian ibu, yang sampai saat ini sudah mencapai angka 32 kematian ibu. Beliau menyampaikan harapannya agar di tahun 2020 dapat menurunkan angka kematian ibu dan juga beliau berharap agar dari setiap pertemuan kegiatan seperti ini dapat menambah ilmu bagi rekan-rekan sejawat.

Kemudian sambutan dilanjutkan dari ketua POGI Jaya, yaitu dr. Okky Sofyan. SpOG. Dalam sambutannya kali ini, dr.okky menyampaikan keprihatinannya terhadap jumlah kehadiran para anggota POGI Jaya di setiap masing-masing komisariat yang mengadakan kegiatan ilmiah. Berdasar pada itu, maka POGI Jaya akan mengambil sikap, yaitu untuk setiap perpanjangan SIP akan dinilai kehadirannya  rekan sejawat dalam kegiatan yang dibuat oleh POGI Jaya. Jika dalam 1 tahun tidak mengikuti kegiatan, maka perpanjangan SIP akan ditunda rekomendasinya sampai yang bersangkutan mengikuti salah satu acara POGI Jaya – di komisariat wilayah mana saja, kemudian di tanda tangani oleh panitia yang kemudian baru dapat dirilis. Alasan diberlakukan persyaratan seperti itu karena kegiatan siang klinik atau Round Table Discussion merupakan salah satu pelaksanaan pilar dari POGI Jaya yaitu Profesionalisme dan Edukasi disamping juga dari Kesejawatan. Diungkapkan juga rencana lain untuk kedepan berikutnya lagi dari POGI Jaya yaitu obgin yang berpraktek di Jakarta, akan ditempatkan obgin-obgin dengan kemampuan yang lebih.

Setelah sambutan dari para pengurus, dilanjutkan oleh sesi Organisasi yaitu dari dr. Frizar Irmansyah, SpOG (K), dalam judul Etika Medikolegal, membahas tentang ilmu kesehatan kedokteran dan ilmu hukum. Jadi pelayanan Medikolegal adalah bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis dengan menggunakan ilmu dan teknologi kedokteran atas dasar kewenangan untuk kepentingan hukum dan untuk melaksanakan hukum yang berlaku. Aspeknya adalah Hak dan kewajiban pasien, yaitu sebagai seorang dokter berhak untuk menolak pasien, tapi tidak dalam situasi darurat. Kemudian ada Jaminan pelayanan medis yang diberikan dengan cara dan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah untuk meng-update ilmu yang dimiliki. Sistem dan prosedur menjamin hak dan kewajiban dan mengadakan evaluasi. Tata kelola rumah sakit tempat berpraktek juga haruslah baik, contoh kasusnya adalah ditemukannya tenaga medis yang berpraktek dengan SIP yang sebenarnya belum diperpanjang lagi. Dewan Pembina merupakan badan independent dalam organisasi POGI, keputusan yang dibuat merupakan keputusan pengurus POGI dan sebagai pemelihara kehormatan etika dan profesi dokter.

Sebelum ke sesi ilmiah, ada sambutan dari Ketua PP POGI, dr. Ari Kusuma Januarto, SpOG(K). Beliau menyatakan bahwa dari melihat angka kematian ibu yang meningkat, ada sesuatu yang harus diperbaiki mulai dari tenaga medisnya, pemerintah dan rumah sakitnya. Jika dilihat dari sisi tenaga medisnya, kesalahan yang sering terjadi mulai dari adanya keputusan klinis yang tidak tepat sampai juga masalah komunikasi. Beliau menyatakan bahwa saat ini yang harus ditingkatkan adalah adanya kerjasama dari semua pihak untuk bisa mengurangi angka kematian ibu.

Sesi berikutnya adalah sesi ilmiah, diawali oleh dr. Achmad Kemal Harzif, SpOG(K) dengan judul “Adakah solusi untuk AUB dan Amenore” dan ditutup oleh materi ilmiah terakhir disampaikan oleh dr. Marly Susanti, SpOG(K) dengan judul materi “Ber KB cantik dan tetap langsing” ,dalam penjelasannya beliau menerangkan dalam mengedukasi para wanita dalam meilih kontrasepsi yang tepat harus diperhatikan apa yang menjadi kekhawatiran para wanita, antara lain tidak mempengaruhi kesehatan dalam jangka panjang, tidak menambah berat badan, tidak menurunkan libido seks dan harga kontrasepsi yang terjangkau.[AW]