Perlunya melakukan komunikasi efektif antara pasien dengan dokter menjadi pertimbangan dasar mencegah terjadinya kesalahpahaman memahami tindakan medis yang dilakukan. Banyak permasalahan kedokteran yang terjadi sebagian besar karena pemahaman yang kurang dari pasien maupun keluarga.

Hal itu dikatakan Ketua Program Advokasi dan Pengayoman Anggota (Papa) POGI Jaya Dr. St. Finekri A. Abidin, SpOG – K, pada pertemuan POGI Jaya Komisariat Jakarta Selatan, di Jakarta, (31/03/2014). Acara tersebut dihadiri ketua komisariat jaksel : Dr. Bramundito, SpOG, Ketua Divisi Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI Dr. Ali Sungkar, SpOG – K, serta sejumlah anggota Komisariat POGI Jaksel.

Finekri mengatakan, di tengah tuntutan pekerjaan seorang dokter, dimana profesionalitas dan kaidah keilmuan harus diterapkan, ternyata masih harus berhadapan dengan sejumlah tuntutan hukum yang dilakukan oleh pasien dan keluarga bila dianggap tidak memberi kepuasan pada pasien.

Mengatasi permasalahan itulah, Finekri menuturkan, POGI Jaya membentuk PAPA sebagai upaya organisasi melakukan advokasi dan pengayoman untuk anggota yang sedang mendapat masalah medikolegal, serta mendudukan persoalan yang timbul antara kedua pihak secara profesional.

Tindakan pencegahan dini terhadap terjadinya berbagai permasalahan itu, perlu ada inform concern semacam pemahaman secara tertulis oleh pasien dan keluarga sebagai bentuk bahwa pasien telah memahami tindakan apa yang telah dilakukan dokter

Finekri lebih lanjut mengatakan, pembentukan PAPA sesuai dengan Undang-undang Praktek Kedokteran Bab VII Pasal 50 tentang perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas, serta AD/ART POGI Tahun 2012 Bab IV Pasal 12 ayat 3 tentang hak keanggotaan.

Sejak terbentuknya PAPA pada 2010, POGI Jaya telah menangani 38 kasus dengan berbagai sumber permasalahan. Hal itu kemudian menjadikan pengurus POGI Jaya tidak henti-hentinya menghimbau kepada anggota agar ikut dalam program PAPA sebagai bentuk pencegahan dan penyelesaian medikolegal tersebut. (DI)