Jakarta, Dalam putusan peninjauan kembali (PK), Mahkamah Agung (MA) membebaskan dr Dewa Ayu Sasiary Prawani, SpOG dkk dari jerat hukum. Salah satu pelajaran penting dari kasus ini bagi dokter adalah: lebih komunikatif pada pasien, keluarga, dan semua pihak terkait.

“Pelajaran berharganya adalah kita harus melakukan komunikasi yang baik dengan seluruh yang berhubungan dengan kita. Pasien, keluarga, masyarakat, penegak hukum. Kalau komunikasinya tidak baik maka tidak akan memahami dan tidak bisa mengerti,” jelas Ketua Umum, dr Nurdadi Saleh, SpOG, saat dihubungi detikHealth, Jumat (7/2/2014).

Menurut dr Nurdadi, dimajukannya dr Ayu dkk ke meja hijau adalah karena kegagalan dokter melakukan komunikasi. Karena itu, yang terjadi di meja operasi langsung memicu reaksi. Alhasil semua pihak menyerang dokter kandungan.

“Meskipun pengadilan awalnya membebaskan dr Ayu dkk, tapi kemudian jaksa mengajukan kasasi dan akhirnya masuk penjara. Ini karena tidak terkomunikasi dengan baik, di mana emboli yang terjadi pada pasien itu tidak bisa diprediksi. Ini kurang dipahami karena komunikasi kurang memadai,” tutur dr Nurdadi.

Menurut dr Nurdadi sudah saatnya para dokter melakukan introspeksi pada dirinya masing-masing. Terkadang saking banyaknya pasien, dokter terlalu lelah menjawab aneka pertanyaan pasien. “Jangan terus bilang ‘kalau nggak percaya sama saya, pindah ke dokter lain’. Sebaiknya tetap menjaga komunikasi yang baik,” imbuh dr Nurdadi.

Dia juga mengingatkan bahwa dokter bukanlah superbodi ataupun profesi yang spesial sehingga tidak dapat dihukum. Dokter tentu bisa dihukum jika terbukti melakukan kesalahan yang melanggar UU. dr Nurdadi pun menyampaikan lima imbauan kepada para dokter yang menjalankan tugasnya, yakni:

1. Minta perlindungan kepada Tuhan
2. Menjunjung tinggi profesionalisme dan etik
3. Memelihara, komunikasi baik dengan pasien, keluarga, maupun penegak hukum. “Agar menjadi dokter yang komunikatif,” ucap dr Nurdadi.
5. Selalu membina kesetiakawanan di antarara dokter

Mulanya dr Dewa Ayu Sasiary Prawani, SpOG, dr Hendry Simanjuntak, dan dr Hendy Siagian divonis bebas oleh Pengadilan Negeri (PN) Manado terkait operasi caesar yang mengakibatkan pasien meninggal dunia. Adapun anak yang dilahirkan selamat. Atas vonis ini, jaksa lalu mengajukan kasasi.

Namun majelis kasasi yang terdiri dari Artidjo Alkostar, Dudu Duswara dan Sofyan Sitompul membalik keadaan dengan menghukum 10 bulan penjara bagi dr Ayu dkk karena kealpannya mengakibatkan pasien meninggal dunia. Vonis ini didemo besar-besaran oleh para dokter di berbagai kota di Indonesia. Vonis kasasi ini lalu dibatalkan oleh MA. Meskipun dalam putusannya, hakim PK tidak mengambil putusan secara bulat, karena salah satu hakim dissenting opinion.

Putusan ini diketok oleh majelis hakim 5 hakim agung yaitu Dr M Saleh, Maruap Dohmatiga Pasaribu, Prof Dr Surya Jaya Syarifuddin dan Margono. Dasar pertimbangan mengabulkan PK yaitu para terpidana tidak menyalahi SOP dalam penanganan operasi sectio caesaria sehingga pertimbangan judex facti pada PN sudah tepat.