Berkaitan dengan kejadian yang menimpa anggota POGI Jaya, Dr. Fransisca Mochtar, SpOG, POGI Jaya menyampaikan beberapa fakta dan menyatakan sikap mengenai peristiwa tersebut, sebagai berikut:

1. Mengecam TINDAKAN KEKERASAN yang dilakukan oleh pasien terhadap
Dr. Fransisca Mochtar, SpOG
2. Mendukung upaya PENYELESAIAN SECARA HUKUM atas kasus kekerasan
terhadap Dr. Fransisca Mochtar, SpOG
3. Melakukan KLARIFIKASI atas kronologi kasus tersebut sebagaimana tertulis dalam siaran pers ini

Berikut kami sampaikan kronologi kasus ini untuk meluruskan pemberitaan kasus tersebut di berbagai media :

18 November 2013, pukul 19.00
Pasien, perempuan Nn. NN, berusia 18 tahun diantar seorang pria berusia 50 tahun, melakukan konsultasi di RS Husada, Kota, Jakarta Barat. Setelah diperiksa, dilakukan pengambilan sampel, dilakukan pemeriksaan USG, lalu dijelaskan harus ke laboratorium.
Pria yang menemani pasien menanyakan kepada dr. Fransiska apa masalahnya gawat, dijelaskan “Hasil lab akan keluar dalam waktu 30 menit, lalu bapak kembali bawa hasil lab dan akan saya jelaskan”. Tetapi, pertanyaan diulang terus, dengan bertanya pengalaman dokter bagaimana? Selanjutnya dijawab bahwa dokter butuh konfirmasi dengan hasil lab dan hanya 30 menit.
Pria tersebut terus berbicara dengan bertanya : “Sudah berapa tahun sih jadi dokter? ini kenapa?” Lalu dokter menjelaskan berulang-ulang dan akhirnya mereka ke lab, selama konsultasi pasien banyak diam saja. Dokter sempat melakukan follow up, menanyakan hasil ke lab sudah keluar atau belum, tapi pasien blm ke ruangan.

18 November 2013, pukul 19.50
Saat pasien dan pria pengantar menyerahkan hasil lab, dokter menjelaskan hasil pemeriksaan, sang pendamping marah-marah, lalu dokter mengatakan akan berikan obat. Pasien terus berbicara : “Ini kan berarti gawat dokter hasilnya, dokter kurang ajar, anjing”
Saat hal tersebut terjadi, dokter mengeluarkan hp untuk merekam, dan menanyakan apa hubungan pria tersebut dengan pasien, dijawab dengan kalimat “bukan urusan anda”, dokter lalu langsung disiram kopi dan dokter menarik lengan baju pria tersebut sambil menanyakan kenapa menyiram, lalu dia memukuli dokter, kemudian sambil berkata : “jangan macam-macam sama saya”. Sembari keluar ruangan dokter mengejar dan mengatakan akan lapor ke polisi. Pria tersebut berkata bahwa dia kenal semua polisi, “kepala polisi mana yang saya nggak kenal”.
Selanjutnya dokter melakukan pemeriksaan visum dan ke kantor polisi untuk membuat laporan. Di kantor polisi, dokter diintimidasi dengan mengatakan akan dibuat nama baik dokter tercemar. ”Gampang sekali tinggal saya kontak seluruh stasiun TV, wartawan, media massa, saya akan lapor IDI, buat dokter susah, kalau dokter lapor saya juga lapor, lihat aja besok”, kata pria tersebut. Sepanjang malam dia terus berkata-kata seperti itu.

Dokter sempat menyampaikan bahwa pria tersebut salah dan harus minta maaf bila salah. Pria tersebut tidak merespon,lalu melapor balik dengan berkata bahwa dokter merebut hasil lab dan merampas hasil lab dari pasien, dan mengenai kopi tersebut, kopi tumpah sehingga terpeleset dan dokter jatuh, lalu dokter melaporkan masalah penganiayaan yang tidak pernah dibuat.
Pendamping tersebut mengaku adalah calon suami. Saat di kantor polisi, mereka ditemani oleh seorang warga Malaysia, dan pria pendamping ini mengatakan pada si warga Malaysia, tenang saja hukum di Indonesia gampang diatur, dan saya sengaja bawa kamu biar lihat nanti juga beres, saya kenal dengan kepala polisinya.

Laporan kepada dokter sudah dicabut oleh pelaku, dan saat ini POGI Jaya mendukung penyelesaian kasus ini secara hukum. Semoga ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Beberapa klarifikasi yang dapat disampaikan mengenai berita yang berkembang :
1. Tidak benar Dr. Fransisca Mochtar, SpOG bermain Blackberry saat memeriksa pasien
Dr. Fransiska tidak memegang Blackberry, karena memeriksa dengan sarung tangan, melakukan USG dengan Sarung tangan, sehingga tidak bisa bermain dengan BlackBerry. Bahkan, dapat ditelusuri melalui Handset BB tersebut. Dokter Fransisca mengeluarkan handphone untuk merekam perkataan pendamping pasien yang sangat tidak etis setelah pemeriksaan pasien selesai dilakukan
2. Tidak benar Dr. Fransisca Mochtar, SpOG ogah-ogahan dalam melayani
Dr. Fransisca Mochtar, SpOG merencanakan pemeriksaan laboratorium, karena obat tidak dapat diberikan bila pemeriksaan tidak dilakukan secara lengkap. Dokter Fransisca sangat serius melayani pasien, terlihat dengan dilakukannya pemeriksaan laboratorium, dimonitor hasilnya, serta diterangkannya secara langsung kepada pasien setelah hasil laboratorium selesai

POGI JAYA mendukung pelaporan kasus ini kepada pihak kepolisian untuk diselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Jakarta, 21 November, 2013
Hormat kami,

POGI JAYA
Ketua​​​​​​
Dr. Frizar Irmansyah, SpOG (K)​​

Sekretaris
Dr. Budi Wiweko, SpOG (K)